Minggu, 17 November 2013

Sabtu malam di Bandung (16-17 november 2013)

      Halo, Bandung. Sudah genap 30 hari lebih tidak jumpa. Begitupun dengan kamu.  Sepertinya saya merasakan ada ruang yang begitu hampa antara kita. Namun saat itu, karena rasa rinduku telah berada di kalbu, maka kuputuskan untuk menemuimu tanpa perjanjian. Kebetulan kamu sedang ada acara di suatu pusat perbelanjaan ternama di kota Bandung. Sesugguhnya alasan utama saya ke kota itu adalah kamu. Semua alasan yang saya ungkap itu hanyalah alasan nomer dua atau nomer tiga. Saat itu saya telah melakukan perjanjian bertemu Yura di mall tersebut. Entah mengapa, Yura pun menanyakan untuk menonton kamu berbarengan.
        Jujur saat itu, saya kaku. Entah saya bersikap apa dan berbicara apapun saya tak tahu. Saya merasa ada kejanggalan dalam bersikap denganmu dan Yura. Ternyata, Yura pun merasa perasaan yang sama malam itu. Maka dari itu, kuputuskan untuk menyudahi pertemuan ini, alias pulang. Dan tanpa disangka pula, kamu pun juga melakukan hal yang sama dengan saya.  Akhirnya kami pulang bersama. Saat itu, hati saya merasa lega. Entah apa penyebabnya. Duduklah saya disampingnya dalam mobil. Cuaca saat itu sedang gerimis karena habis hujan lebat. Tenang sekali berada disamping kamu. Saya seperti ada dalam rumah yang penuh proteksi.
       Saya dan dia terus berbincang-bincang mengenai hal apapun. Hal tersebut dapat dipastikan member saya pengetahuan yg lebih luas mengenai kehidupannya dan sesuatu yang berguna. Hal yang ia ceritakan awal-awal adalah kesenangannya akan mewujudkan cita-cita yang memang sejak lama ingin ia wujudkan, yaitu membawa adik kesayangannya Rino untuk bepergian ke luar negeri. Berapapun biaya yang ia keluarkan adalah hasil tabungannya yang memang sudah diniatkan untuk kepergian ini. Saya merasakan keharuan dan kebanggaan terhadap dirinya. Karena ia mampu mewujudkan apa yang menjadi keinginannya sejak lama. Selain itu, ia selalu menasihati saya agar tidak menjadi manusia yang memiliki pola pikir sempit, yaitu pola pikir yang mengutamakan uang. Ia mengajarkan agar menjadi wanita yang menyayangi keluarga, mengutamakan keluarga dibanding lainnya. Saat ia menjelaskan secara detil, saya menatap dalam-dalam matanya (saat itu kami berhadapan) sambil menyuap nasi yang ada depan kami. Saya betul-betul menikmati our quality time berdua saja dengannya. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama berdua saja. Pertemuan kami malam itu adalah sebuah semangat saya untuk dapat menjadi manusia dengan mengejar kebahagiaan bukan materi. Disaat akhir pertemuan kami, yang ada dalam benak saya hanya ‘ya Allah laki-laki yang ada dihadapan saya ini baik sekali ya, tulus, dan sangat memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa’. Entahlah berapa persen rasa kagum saya meningkat beriringan dengan rasa sayang saya terhadapnya dan keluarganya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar