Halo,
Bandung. Sudah genap 30 hari lebih tidak jumpa. Begitupun dengan kamu. Sepertinya saya merasakan ada ruang yang
begitu hampa antara kita. Namun saat itu, karena rasa rinduku telah berada di
kalbu, maka kuputuskan untuk menemuimu tanpa perjanjian. Kebetulan kamu sedang
ada acara di suatu pusat perbelanjaan ternama di kota Bandung. Sesugguhnya
alasan utama saya ke kota itu adalah kamu. Semua alasan yang saya ungkap itu
hanyalah alasan nomer dua atau nomer tiga. Saat itu saya telah melakukan
perjanjian bertemu Yura di mall tersebut. Entah mengapa, Yura pun menanyakan
untuk menonton kamu berbarengan.
Jujur
saat itu, saya kaku. Entah saya bersikap apa dan berbicara apapun saya tak
tahu. Saya merasa ada kejanggalan dalam bersikap denganmu dan Yura. Ternyata,
Yura pun merasa perasaan yang sama malam itu. Maka dari itu, kuputuskan untuk
menyudahi pertemuan ini, alias pulang. Dan tanpa disangka pula, kamu pun juga
melakukan hal yang sama dengan saya.
Akhirnya kami pulang bersama. Saat itu, hati saya merasa lega. Entah apa
penyebabnya. Duduklah saya disampingnya dalam mobil. Cuaca saat itu sedang
gerimis karena habis hujan lebat. Tenang sekali berada disamping kamu. Saya
seperti ada dalam rumah yang penuh proteksi.
Saya
dan dia terus berbincang-bincang mengenai hal apapun. Hal tersebut dapat
dipastikan member saya pengetahuan yg lebih luas mengenai kehidupannya dan
sesuatu yang berguna. Hal yang ia ceritakan awal-awal adalah kesenangannya akan
mewujudkan cita-cita yang memang sejak lama ingin ia wujudkan, yaitu membawa
adik kesayangannya Rino untuk bepergian ke luar negeri. Berapapun biaya yang ia
keluarkan adalah hasil tabungannya yang memang sudah diniatkan untuk kepergian
ini. Saya merasakan keharuan dan kebanggaan terhadap dirinya. Karena ia mampu
mewujudkan apa yang menjadi keinginannya sejak lama. Selain itu, ia selalu
menasihati saya agar tidak menjadi manusia yang memiliki pola pikir sempit,
yaitu pola pikir yang mengutamakan uang. Ia mengajarkan agar menjadi wanita
yang menyayangi keluarga, mengutamakan keluarga dibanding lainnya. Saat ia menjelaskan
secara detil, saya menatap dalam-dalam matanya (saat itu kami berhadapan)
sambil menyuap nasi yang ada depan kami. Saya betul-betul menikmati our quality
time berdua saja dengannya. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama
berdua saja. Pertemuan kami malam itu adalah sebuah semangat saya untuk dapat
menjadi manusia dengan mengejar kebahagiaan bukan materi. Disaat akhir
pertemuan kami, yang ada dalam benak saya hanya ‘ya Allah laki-laki yang ada
dihadapan saya ini baik sekali ya, tulus, dan sangat memiliki jiwa kepemimpinan
yang luar biasa’. Entahlah berapa persen rasa kagum saya meningkat beriringan
dengan rasa sayang saya terhadapnya dan keluarganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar