Tanggal 21 desember 2011 kami (gue, ria dan dinda) berniat mengunjungi panti asuhan bayi sehat muhammadiyah Bandung, tanggal tersebut dipilih karena gue dan ria mau pulang ke Jakarta ( rumah masing- masing ) jadi kami menyempatkan diri sebentar kesana. Hasil dari kerja keras kami mengetok pintu-pintu anak kosan yang menyumbangkan sedikit uangnya telah kami salurkan. Alhamdulillah . sebelum pergi kesana kami menyempatkan diri untuk membeli beras 2 karung besar, susu kalengan, dan 1 pak mie instan kondisi saat itu hujan. Sebelum melanjutkan perjalanan hingga ke panti, perut kami keroncongan. Kami mampir ke sebuah restoran padang di depan rumah sakit Muhammadiyah. Setelah kami merasa cukup kenyang, kamipun melanjutkan perjalanan.
Akhirnya sampai juga dipanti asuhan muhammadiyah bandung. Panti asuhan ini dipilih karena menurut oknum yang berama Dinda, disana banyak bayi-bayi mungil yang lucu. Ya karena ria dan dinda suka banget sama bayi, maka gue juga nurut. Setelah parkir, kami pun masuk ke dalam panti. Disana kami bertemu wanita muda berkerudung, kemudian kami menanyakan perihal kunjungan terhadap bayi yang ada didalam sana. Ternyata masih boleh dikunjungi. Kamipun bergegas naik ke lantai 3 ruang para bayi, dan ketika kami masuk ke dalam, kami ber3 melihat sendiri betapa para bayi ini kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Mereka semua haus pelukan, gendongan, dan perhatian. Dinda tertuju pada ranjang bayi yang bernama ‘Rizky’ , ria tertuju pada seorang bayi yang menangis kencang akibat botol susunya jatuh, gue tertuju pada anak berumur 8 tahun yang mempunyai keterbelakangan atau sebut saja anak itu kurang beruntung. Agak aneh juga umur 8 tahun tapi di tempatkan satu ruangan yang sama dengan para bayi di box bayi pula.
Ya nama anak itu ‘Ridho’. Ia sangat antusias dengan genggaman tangan orang yang mendekatinya, maka gue genggam terus tangan itu. Selain itu ia juga tertarik akan cahaya handphone. Gue terus memperhatikan Ridho, entah mengapa jika kita melihat matanya, kedua bola matanya terus memutar dan tidak pernah fokus akan 1 titik jika kita memanggilnya. Ia hanya dapat tersenyum atau tertawa kecil , ia tidak mengeluarkan sepatah dua patah kata pun padahal gue selalu mengajak ia berbicara. Postur tubuh Ridho juga tidak wajar, badannya terlalu kecil untuk usia 8 tahun. Perempuan mana yang gak miris melihat nasib Ridho, jiwa keibuan gue mulai muncul (hore). Rasanya pengen membawa Ridho untuk berobat. Gue Cuma bisa berdoa agar Ridho ada yang mengasuhnya dengan layak dan mengobatinya sampai ia normal seperti anak-anak seumurannya.
Banyak juga anak bayi yang terbilang baru lahir, tega sekali ada orang tua yang membiarkan atau membuang anaknya begitu saja. Padahal mereka para bayi tidak mengetahui apa-apa dan masih sangat bersih dan luput dari dosa. Mereka sangat membutuhkan belaian dan pelukan yang penuh kasih sayang dari kita semua, sayangnya bayi-bayi itu sudah dipaksa harus mandiri seperti pengunjung panti tidak diizinkan untuk menggendong bayi yang ada disana. Ini dimaksudkan agar mereka semua tidak manja. Ya kami mengerti tapi diam diam kami gendong, hehe, tidak termasuk gue. Panti asuhan ini sangat bersih dan terawat, tapi biar bagaimanapun juga panti sangat membutuhkan donasi dari para donatur serta para perawat bayi agar perawat bayi yang sekarang ini tidak merasa keletihan untuk mengurus semua bayi-bayi yang ada saat ini. Semoga para anak asuh yang ada dipanti tersebut dapat di angkat menjadi anak oleh para orang tua asuh yang sangat diridhoi oleh Allah dan mempunyai hati mulia. AMIN.



