Senin, 09 September 2013

Graduation 2013. Sarjana Humaniora.





Terima kasih untuk semua yang sengaja meluangkan waktu di hari yang saya tunggu-tunggu, hari wisuda 27 Agustus 2013. Love them. 




semoga sehat

                  Hari sabtu lalu, saya menemani sahabat saya untuk merekam beberapa instrumen drum untuk 3 buah lagunya di Aru Studio Bandung. Studio musik tersebut sudah sering saya datangi. Anak dari pemilik studio tersebut mendatangi kami sekedar untuk menyapa saya dan Arif. Ia memegang sebuah kemeja batik ditangannya dan berpamitan untuk menghadiri resepsi pernikahan temannya, Ginda. Setalah itu, saya segera menyelesaikan pembayaran studio rekaman di kasir. Saat itu, Ibundanya  yang menjaga kasir. Kami pun berbincang-bincang mengenai hal apapun. Termasuk hal pelajaran hidup. Saya kagum dan terharu sekali saat menyimak semua cerita itu. Ibunya dan saya sama-sama meneteskan air mata. Bagi saya, wanita yang dihadapan saya itu adalah inspirator kedua setelah Ibu saya. Yang saya ingat sangat jelas pesan dari Ibunya adalah

‘Kalau kita  terhanyut menjadi lemah dan terus menangisi keadaan, lalu siapa yang menguatkan orang-orang sekeliling kita termasuk anak-anak?’ , ‘Jadilah wanita yang tegar baik dalam maupun luar’.

                Kalimat tersebut sampai saya menulis blog ini sangat sangat menjadi sebuah semangat agar saya dapat menjadi wanita yang kuat dan tegar. Selain cerita tersebut, cerita mengenai penyakit orang yang saya sayangi adalah sebuah cerita yang membuat saya sedih sekaligus kuat. Anak dari pemilik studio tersebut, Arifandi, adalah pria dewasa yang begitu luar biasa humble dan pandai.  Kelihaiannya dalam menekan tuts piano serta kecintaannya terhadap keponakannya membuat hati saya terenyuh. Ari, bercerita jika ia sudah mengidap batuk yang tiada hentinya selama 12 tahun lamanya. Hal tersebut membuatnya untuk memeriksa penyakitnya tersebut ke semua rumah sakit dan dokter terkemuka. Akhir pekan lalu, ia mengunjungi Singapura untuk memeriksakan keadaannya. Ia juga bercerita, ia pernah di judge mengidap kanker, bronchitis, dan lain-lain oleh dokter di Indonesia. Ketika ia bercerita hal itu, saya tidak bisa berkomentar. Saya hanya bisa tersenyum sambil memperlihatkan mata saya yang berkaca2. Saya drop. Benar-benar down. Orang yang saya kagumi sedang tertimpa penyakit yang dirinya dan saya pun tak tahu apa penyakit pastinya. Saya hanya bisa berdoa dalam hati sambil menatap dalam-dalam matanya. Ya Allah sehatkanlah laki-laki yang ada dihadapan saya, berikanlh kesabaran dan umur yang tak terhingga. Aamiin. Semoga Allah selalu menyayangimu, Ari Renaldi dan keluarga. Aamiin.