Jumat, 29 November 2013

Selamat tanggal 29 bulan sebelas.

Meski tidak selalu dipestakan, tidak pula dianggap sebagai hari raya, titik pergantian umur ke angka yang lebih besar ini tidak pernah tidak membuat saya diam sebentar dan menerima bahwa akhir justru kian dekat. Waktu, mendorongmu maju berjalan. Waspada, menarikmu untuk bertekuk pada akhir.
Semua manusia demikian.Semua manusiapun bisa datang bisa pergi. Bukan berarti mereka hanya melumat manis dan beranjak saat di diri saya tersisa sepah, tapi mereka sama seperti saya, juga punya mimpi, titik tujuan dan kepentingan lain. Kalau bersama tidak merakit sayap, maka tidaklah berharga untuk dijaga. Tenang, ada banyak kenangan baik yang akan abadi menjadi judul.
Inilah hari di mana menjadi semakin tua, kukuh tak terbantahkan. Semoga ini pula hari, di mana kedewasaan, tangguh jadi hal baru yang bisa saya tawarkan. Bagaimana mungkin kulit dan pori, serta otak yang mega rumit mampu ada hanya karena sebuah kebetulan. Semoga saya semakin yakin akan adanya Tuhan. Maha kuasa, Esa dan pencipta.
Selamat ulang tahun wahai jiwa. Terima kasih sudah di sana dalam waktu yang lama. Kita akan hadapi banyak tikungan dan tanjakan tanpa pengaman di depan sana. Berjalanlah kita terus. Ambilkan saya minuman kaleng dingin bila haus. Ingatkan saya menepi dan istirahat sejenak bila harus.
Dan saya masih bisa ingat jelas, yang datang pasti pergi, yang hidup pasti mati. Inilah hari saya datang, hidup dan terlahir, tidak tau apa-apa, tidak berbeban apa-apa. Waktu terus berjalan. Ilmu, ulah, hasut, pandu. Plastik, baja, benang. Susah, sedih, senang. Telan atau bagikan. 
Keluarga dan sahabat, terima kasih untuk kasih sayang dan waktu yang rela kalian bagikan. Meski terlahir dgn kondiai keluarga yang agak kurang lengkap, sungguh kehadiran kalian membuat banyak hal terasa lebih menyenangkan. 
Ini hari lahir saya. 29 November. 

Minggu, 17 November 2013

Lirik lagu Afgan mungkin nyata bagi saya...

'Andai engkau tahu betapa aku mencinta, selalu menjadikanmu isi dalam doaku'.

You should know, i always give the best prayer for you and us. always. always. 


Ketika bersama kamu entah mengapa jam tangan saya tidak berputar


Sabtu malam di Bandung (16-17 november 2013)

      Halo, Bandung. Sudah genap 30 hari lebih tidak jumpa. Begitupun dengan kamu.  Sepertinya saya merasakan ada ruang yang begitu hampa antara kita. Namun saat itu, karena rasa rinduku telah berada di kalbu, maka kuputuskan untuk menemuimu tanpa perjanjian. Kebetulan kamu sedang ada acara di suatu pusat perbelanjaan ternama di kota Bandung. Sesugguhnya alasan utama saya ke kota itu adalah kamu. Semua alasan yang saya ungkap itu hanyalah alasan nomer dua atau nomer tiga. Saat itu saya telah melakukan perjanjian bertemu Yura di mall tersebut. Entah mengapa, Yura pun menanyakan untuk menonton kamu berbarengan.
        Jujur saat itu, saya kaku. Entah saya bersikap apa dan berbicara apapun saya tak tahu. Saya merasa ada kejanggalan dalam bersikap denganmu dan Yura. Ternyata, Yura pun merasa perasaan yang sama malam itu. Maka dari itu, kuputuskan untuk menyudahi pertemuan ini, alias pulang. Dan tanpa disangka pula, kamu pun juga melakukan hal yang sama dengan saya.  Akhirnya kami pulang bersama. Saat itu, hati saya merasa lega. Entah apa penyebabnya. Duduklah saya disampingnya dalam mobil. Cuaca saat itu sedang gerimis karena habis hujan lebat. Tenang sekali berada disamping kamu. Saya seperti ada dalam rumah yang penuh proteksi.
       Saya dan dia terus berbincang-bincang mengenai hal apapun. Hal tersebut dapat dipastikan member saya pengetahuan yg lebih luas mengenai kehidupannya dan sesuatu yang berguna. Hal yang ia ceritakan awal-awal adalah kesenangannya akan mewujudkan cita-cita yang memang sejak lama ingin ia wujudkan, yaitu membawa adik kesayangannya Rino untuk bepergian ke luar negeri. Berapapun biaya yang ia keluarkan adalah hasil tabungannya yang memang sudah diniatkan untuk kepergian ini. Saya merasakan keharuan dan kebanggaan terhadap dirinya. Karena ia mampu mewujudkan apa yang menjadi keinginannya sejak lama. Selain itu, ia selalu menasihati saya agar tidak menjadi manusia yang memiliki pola pikir sempit, yaitu pola pikir yang mengutamakan uang. Ia mengajarkan agar menjadi wanita yang menyayangi keluarga, mengutamakan keluarga dibanding lainnya. Saat ia menjelaskan secara detil, saya menatap dalam-dalam matanya (saat itu kami berhadapan) sambil menyuap nasi yang ada depan kami. Saya betul-betul menikmati our quality time berdua saja dengannya. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama berdua saja. Pertemuan kami malam itu adalah sebuah semangat saya untuk dapat menjadi manusia dengan mengejar kebahagiaan bukan materi. Disaat akhir pertemuan kami, yang ada dalam benak saya hanya ‘ya Allah laki-laki yang ada dihadapan saya ini baik sekali ya, tulus, dan sangat memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa’. Entahlah berapa persen rasa kagum saya meningkat beriringan dengan rasa sayang saya terhadapnya dan keluarganya.